singgasana.kata
•
Setiap orang yang memilih berjalan menuju Allah pasti akan berjumpa ujian. Ujian adalah cara hidup mengikis kesombongan, membersihkan niat, dan menyingkap mana yang sungguh sungguh dicari. Ia bukan tanda ditinggalkan, melainkan tanda sedang ditempa. Sebab perjalanan spiritual tidak pernah berupa jalan datar tanpa rintangan, melainkan tanjakan yang membuat langkah menjadi lebih sadar.
Namun ada tingkatan lain yang lebih dalam dari sekadar diuji. Dalam tradisi tasawuf yang banyak diungkapkan oleh Jalaluddin Rumi dan para sufi lainnya, orang yang dicintai Allah tidak hanya diuji, tetapi dibakar. Bukan dibakar dalam arti kebinasaan, melainkan dalam arti penyucian. Api itu menghanguskan ego, ambisi yang berlebihan, dan keterikatan yang menghalangi kedekatan sejati. Yang tersisa bukan lagi keakuan, melainkan kepasrahan.
Terbakar berarti melepaskan banyak hal yang selama ini dianggap diri kita. Status, pujian, rasa ingin diakui, bahkan rasa ingin dimengerti. Proses itu tidak nyaman. Ia terasa seperti kehilangan demi kehilangan. Tetapi dalam kehilangan itu, seseorang justru menemukan inti yang tidak bisa hilang. Ketika segala selain Dia luruh, hati menjadi ringan karena tidak lagi menanggung beban dunia yang berlebihan.
Barangkali cinta Ilahi memang tidak selalu lembut seperti yang dibayangkan. Ia bisa hadir sebagai api yang membersihkan. Dan ketika pembakaran itu selesai, yang tinggal hanyalah kesadaran paling murni: bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Dalam keadaan itu, seseorang tidak lagi mencari, karena ia telah larut dalam Yang ia cari.






